Ketika Publik Mulai Lebih Percaya AI daripada Ahli

Ada perubahan sunyi yang sedang berlangsung di ruang publik. Banyak orang kini merasa jawaban dari kecerdasan buatan terdengar lebih meyakinkan dibandingkan penjelasan para ahli. Bukan karena AI selalu benar, melainkan karena manusia semakin sering diragukan.

Ini bukan sekadar kesan atau kegelisahan subjektif. Sejumlah riset mutakhir menunjukkan bahwa kepercayaan pada AI justru tumbuh dari menurunnya kepercayaan pada manusia. Ketika figur otoritas dianggap bias, tidak konsisten, atau terlalu sarat kepentingan, sebagian publik secara tidak sadar memindahkan kepercayaannya kepada mesin yang dipersepsikan lebih netral dan tenang.

Dengan kata lain, AI dipercaya bukan karena ia sempurna, tetapi karena manusia dicurigai.

Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Publik menyaksikan para ahli berbeda pendapat di ruang yang sama, tentang kesehatan, lingkungan, ekonomi, bahkan etika. Yang satu mengatakan aman, yang lain mengingatkan risiko. Yang satu meminta kehati-hatian, yang lain mendesak percepatan. Di tengah perbedaan itu, publik diminta percaya.

Masalahnya, kepercayaan tidak tumbuh dari perintah. Ia tumbuh dari konsistensi dan keterhubungan. Ketika keduanya rapuh, publik mencari sumber lain yang terasa lebih stabil.

Di situlah AI masuk.

AI menjawab cepat. Bahasanya rapi. Nadanya tenang. Ia tidak terlihat ragu dan tidak tampak membawa kepentingan. Dalam kebisingan manusia, AI terdengar seperti suara yang jernih. Psikologi menyebutnya fluency effect: jawaban yang disampaikan dengan lancar dan meyakinkan cenderung lebih dipercaya, bahkan ketika isinya belum tentu benar.

Ironisnya, di saat kepercayaan pada manusia menurun, kewaspadaan kita terhadap mesin justru melemah. Kita semakin kritis pada manusia, tetapi semakin permisif pada algoritma. Padahal AI bekerja dari data masa lalu yang sarat bias, asumsi, dan ketimpangan dan menyusunnya ulang dalam kalimat yang tampak masuk akal.

Di titik ini, persoalan tidak lagi sebatas akurasi teknologi. Ia berubah menjadi persoalan tanggung jawab. Ketika keputusan keliru diambil berdasarkan rekomendasi AI, siapa yang menanggung akibatnya? AI tidak bisa dimintai pertanggungjawaban moral. Ia tidak hidup bersama dampak sosial dari keputusannya. Manusia yang menanggung semuanya tetapi manusia pula yang kepercayaannya sedang tergerus.

Fenomena ini seharusnya menjadi cermin yang tidak nyaman bagi para ahli. Kepercayaan publik tidak runtuh karena masyarakat anti-ilmu pengetahuan, melainkan karena komunikasi keahlian sering gagal menjangkau pengalaman hidup sehari-hari. Terlalu teknis, terlalu defensif, terlalu sibuk menjaga otoritas, dan terlalu jarang mengakui ketidakpastian secara jujur.

Jika para ahli terus berbicara dari menara gading, publik akan memilih jawaban yang tersedia di genggaman tangan, meski jawabannya tidak selalu utuh.

Melawan AI bukanlah jalan keluar. Yang jauh lebih mendesak adalah memulihkan kepercayaan pada proses manusia yaitu transparansi dalam pengambilan keputusan, konsistensi dalam penjelasan, dan keberanian untuk mengatakan “kita belum tahu”. AI seharusnya menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti nalar kolektif.

Ke depan, pertarungan utama bukan soal siapa yang paling pintar. Melainkan siapa yang paling dipercaya ketika jawaban terdengar meyakinkan. Jika kita lengah, publik bisa saja memilih yang cepat dan terdengar pintar meski keliru, ketimbang yang lambat tetapi bertanggung jawab.

Dan ketika kepercayaan berpindah tanpa disadari, yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya posisi para ahli, melainkan cara masyarakat menentukan apa yang layak dipercaya.

Tulisan ini merujuk pada hasil penelitian terbaru Universitas La Sabana, Kolombia (2025), yang menunjukkan bahwa kepercayaan pada AI kerap muncul sebagai respons atas menurunnya kepercayaan publik terhadap manusia sebagai sumber otoritas pengetahuan. (Adm)

Tag Berita

Share berita ini di kanal anda melalui:

WhatsApp
Email
Facebook
X

Artikel terkait

Penelitian, Survei, Kajian, pendampingan sertifikasi (SVLK, FSC, PEFC, ISPO, ISO), Komunikasi Multimedia, Teknologi Informasi dan Penyelenggara Acara